Eh, ada loh yang ngira emak kayak saya ekstrim...
Padahal dia sendiri pingin anaknya shalihah, manggil anaknya pun "shalihahnya bunda" dll.
***
Saya merasa TELAT mendidik bayi Ei.
Pas hamil, saya sangat jarang (bahkan hampir nggak pernah) memperdengarkan murottal pada janin Ei. Padahal 3 bulan awal itu perkembangan otak katanya... Trus juga saya males bacain Al Quran, adaa aja alasannya (tapi hingga saat ini masih logis menurut saya). 3 bulan pertama, gampang muntah karena bau menyengat apapun, mulai aroma tumisan bumbu, hingga bau parfum ayah. 3 bulan kedua badan berubah drastis menjadi SANGAT BERAT, jadi tidak nyaman duduk lama, tidur lama, apalagi berdiri lama. 3 bulan akhir, bukan hanya semakin berat (dgn kenaikan badan 20 KILO!) dari slimmy cutie jadi kayak anak gajah, kaki saya pun bengkak, dan rasanya... Hmmm... Nikmat pahala banget *ahaha* kuku sampe menghitam, sendal sampai ganti pakai punya ayah, kaoskaki pada enggak muat, dan banyaak kasus kesulitan jalan *fyuhh nikmatnya sudah melahirkan :p*
Balik ke pendidikan Ei. Udah pas hamil enggak belajar apapun (bagi sy), pas habis lahiran, dia hanya saya ajak ngobrol verbal. Ini adalah kebiasaan orang audio visual, cerita sambil bayangin roleplay. Saya sebagai saya (penanya) dan saya sebagai Ei (penjawab), sering juga saya sebagai hewan, akung, uti, bahkan menjelma sbg huruf hijaiyah (pas Ei belajar buku bantal hijaiyah).
Bagi saya, itu tetap kurang. Ei sang HAFIDZUDDIIN (aamiin), sangat 'nggak berupaya banget' rasanya kalo dihasilkan dgn upaya cuma gitu aja. Work harder, Bunda! *soraksorai*
Pas Ei usia dua bulan, saya cari2 grup parenting daaann... Dapat. Masuk di grupnya Mbak Yanti Tanjung, dan itu kece banget. Intinya, buanyaakk lah yang saya dapat dari tanya jawab emak2 sama mbak Yanti itu.
Selanjutnya, stagnan sampai Ei sekitar setahun. Kenapa? Karena saya lama lama jumud alias enggan. Bosen gegara trik audio visual saya berasa nyampah gaada hasil yang kelihatan pada baby Ei. Tapi apakah saya berhenti? Enggak. Tetep dgn trik yang sama, tiap kesempatan, sampek bosan, pokoknya ndidik aja, ga peduli hasilnya, lhawong bisanya gitu doang. Bayi Ei juga belum bisa diajari sambil gerak2.
Setahun, dia trantanan (enggak kenal istilah Indonesianya). Dia mulai menunjukkan bakatnya. Dan kagetnya, motoriknya (yang tadinya dibilang telat sama tetangga gegara 9bln belum juga merangkak) Qadarullaah, berkembang apiiikk banget. Memang menurut bagan perkembangan dia selalu tertinggal, selalu membuat saya menangis tiap dinasehati bidan, bahkan memutuskan utk tidak ikut posyandu lagi. Tapi si Ei ini lain, dia awal merangkak enggak asal merangkak, tapi asli penuh strategi. Jalan pun begitu, dia trantanan bentar (hitungan hari), langsung bisa jalan. Dia mudah banget menirukan gerakan dan ekspresi. Kemudian saya dan ayah menyimpulkan bahwa Ei dominan audio kinestetik.
Dari sinilah semangat saya berkobar. Trik demi trik, strategi, metode, materi saya cari guna melejitkan perkembangan Ei dengan segala potensinya. Karena suami saya juga tipe audio kinestetik, permainan yang kami beli seringkali saya minta dia yang pilihkan. Kalau buku, saya yang pilihkan. Hebatnya, yang sering dipakai properly adalah pilihan si ayah, buku pilihan saya Ei mainkan dengan gaya kinestetik (baca: dirobek, dimakan, digigit, dilempar ahaha) *kinestetikconnection*
Tapi Ei punya potensi audio. Dia merekam dengan baik, juga mereview dengan baik apa yang dia dengar. Lebih dari kawan seumurannya yang jumlahnya seabrek di RT saya hehe. Jadilah program berbau roleplay tetap berlanjut. Mengajarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga saat ini dia bisa menyebut patahan2 instruksi dengan cukup baik, juga menyanyi dan berdoa dgn cukup apik (ketimbang kawan2nya). Itu membuat saya me-nasakh anggapan bahwa yang saya ajarkan sejak bayi ke Ei hanyalah nyampah.
Saya dan suami tidak berhenti disitu.
Saya buatkan dia jadwal hafalan, selalu berdoa tiap memulai aktifitas (yang kami sbg ortu ngerti doanya), juga mengatur potensi2 dasar seperti emosi, naluri mempertahankan diri, juga naluri menyayanginya yang seringkali diungkapkan meluap luap.
Saat semangat2nya, muncullah postingan seorang kawan ttg anaknya yg shalihah dan berbagai captionnya yang bagi saya kurang match, juga berasa menyebut emak kayak saya "ekstrim".
Ada loh yang ngira orang kayak saya ekstrim. Padahal sebab-akibat itu kan ranah pikiran manusia. Ranah Tuhan kan memberikan realisasi atau tidak.
Anak kita jadi shalihah itu takdirnya Allaah. Upaya kita memang kudu ekstrim, bukan untuk mengisi indikator keberhasilan mendidik anak saja, tapi untuk LPJ kelak di hari dimana tiada pembela kita selain amal yang tidak terputus, juga anak shalihah.
Untuk para emak ekstrimis, keep fighting! Kita enggak hidup di dunia aja. Jangan mau kalo cuma dapet predikat emang rempong doang. Kejarlah predikat emak rempong fighter lillaahita'ala *gaya popeye*
*this article is totally based on my own pov. Take lesson if there is any.
